 | Category: | Books | | Genre: | Travel | | Author: | Adhitya M, Alaya S, Iman H, & Ninit Y |
Resensi buku jalan-jalan ini ringan, enak dibaca dan menyenangkan. Buku yang asyik! Itu awal kesan saya saat membalik halaman-halaman awal buku setebal 200-an halaman ini. Gaya tulisan di awalnya sudah menyentuh kekinian yang informatif dan komunikatif. Bahasanya mudah dicerna, mengalir selaras dengan alur cerita yang gembira, konyol dan 'ngeblend' dengan dasar cerita.
Keempat orang bersahabat dari kecil. Di masa SMA mereka mulai saling jatuh cinta tanpa pernah tersampaikan. Retno dua kali menolak Francis padahal sebenarnya Farah memendam cinta pada pria itu. Menambah masalah jadi pelik, Jusuf juga sebenarnya menyayangi Farah.
Mereka tumbuh besar dan bekerja di negara berbeda. Masalah dimulai ketika Francis mengirimkan undangan kepada tiga sahabatnya bahwa dia akan menikah dengan gadis Spanyol di Barcelona. Masing-masing pergi menuju Barcelona meski dengan budget terbatas dari penjuru yang berbeda dengan misi tersendiri. Mencari jawaban untuk pertanyaan masing-masing.
Empat penulis, sejatinya merangkum pelangi karakter tulisan. Tentu saja ini memperkaya cerita. Belum lagi latar belakang masing-masing penulis yang mengedepan dan terjejak di beberapa bagian cerita. Kredo sebagai anak muda tergambar gamblang apa adanya, cepat ke tujuan, ( lagi-lagi ) tutur cerita yang ringan dan ceplas ceplos, sangat terbuka, tidak membuat penasaran.
Buku ini sekilas bisa diartikan sebagai sebuah catatan perjalanan, sebulan catatan perjalanan, dengan tempelan kisah kasih yang meronta setelah sekian mendekam lama dalam lubuk. Perjalanan hati empat manusia, dua pasang, yang cukup mengharukan, tetapi mengesankan.
Saya kembali mencoba sadar bahwa buku ini bukan sesungguhnya bercerita melulu mengenai perjalanan dari menuju ke dengan segala tetek bengeknya. Kita tidak akan menemukan cerita yang komprehensif mengenai perjalanannya, walau di sana sini ada semacam tips atau catatan mengenainya. Gambaran perjalanan, tempat wisata, transportasi menempel saja, tidak melekat banyak dalam imajinasi kita sehingga kita bisa mencatatnya baik-baik dalam benak.
Perkecualian ada, pada kisah Jusuf, yang konyol, pede banget akan kegantengannya ( saya yakin ini personifikasi Adhitya Mulia..hehe ) tetapi paling lepas. Pengalaman tidak biasanya lebih banyak dari yang lain, tetapi sayang juga eksplorasinya kurang mendalam. Contoh, cerita evakuasi Jusuf ke rumah Gunther yang berbaur dengan pengungsi lain. Ini bisa jadi pengayaan cerita. Juga saat Andre dari Brazil, travelmate dadakan Farah, karakter lain-Arab Jawa bermata biru, yang bisa dieksplor pengalamannya setelah 2 bulan disuruh backpacking oleh orangtuanya yang yakin backpacking setahun lebih 'ngelmu' dari kuliah sekian tahun.
Nah, yang sangat niat melakukan trip, karakter Retno, malah terasa kurang penjelajahannya. Perjalanan wisatanya dari Kopenhagen hingga Barcelona membuat saya menuntut cerita lebih banyak tentangnya. Perjalanan Retno seperti sebuah subfile kecil. Milan, terlebih Venesia dieksplorasi dikiiiitt sekali, apalagi Retno tidak naik gondola -memilih jalan kaki- keluar masuk museum. Aduuh! Sayang sekali, cerita Venesia seharusnya mendominasi perjalanan Retno.
Dalam beberapa tips tercantum pula pesan yang berkaitan dengan makan dan makanan. Salah sebuahnya adalah tentang obat bagi pencernaan. Lainnya, penyediaan dana bagi kebutuhan travel yaitu, makan!
Tetapi dalam buku ini, faktor penting bagi seorang traveler, yaitu makan dan makanan tidak mendapat tempat yang layak di sisi mereka. Halah! Yang paling dominan, yaa,..bakpaonya Francis doang!
Saya berandai kesempurnaan dan kelengkapan cerita ini dengan adanya apresiasi tebal pada makanan yang dinikmati Francis di Little Havana, sopas de frijoles negros, atau Apfelstrudel yang dinikmati Farah di Winanya langsung selain penggambaran kopi yang komprehensif di Kafe Wien, juga poffertjess Amsterdam yang dimakan di Harlem oleh Retno. Dan, Jusuf, orang yang sibuk dengan privatisasi gantengnya ini kurang doyan makan tampaknya.
Lalu, dramatisasi cerita. Sungguh, saya menangkap bahwa kisah romansa dalam buku ini bukan semata-mata sampiran. Tetapi begitu masuk bab kesekian (sengaja gak ditulis, ntar gak seru dong, bacanya..), kejadian dramatis berlangsung cepat, tanpa saya tahu arsitektur ekskalasinya. Jadi, in my humble opinion, kurang orgasmic. Rasanya di sini titik puncak cerita, tetapi saya tidak mendapatkannya di situ, malah di Gate 12, saat Farah mau boarding.
Ah..ini mah, kesengajaan dari Adhitya, niih!
Kesimpulan dari kesimpulannya, buku ini seharusnya bisa lebih tebal lagi dengan detil perjalanan, appreciative culinary experiences, outlook akomodasi yang mendalam. Sehingga membuat pembaca holdback, menikmati dramatisasi kasih dengan imajinasi yang melanglang jagad yang maha luas ini.
  | Kang Adit & Teh Ninit nya udah stay di S'pore sekarang Mbak...*gakpentingya* |
 | Yang pertama kali membuat saya pengen beli buku ini adalah cover-nya yang lumayan asik |
 | santipanon wrote on Mar 28, '08, edited on Mar 28, '08 cover-nya yang lumayan asik  eh ko sama sih... gw juga.. !! btw, sekarang lo sdn di mana, masih di kakak lo, di jakarta, ato jangan2 dah balik ke solo...??? |
 | buku ini recomment a lot buat permana harry... beli sekarang juga... dan bawa buat nemenin traveling kl - sing... balik pasti fresh !! |
 | Masih di tempat kakak. Ini lagi nyari orang yang mau ngasih pulsa haha, gila gara2 warnetnya jauh jadinya buka MP pake Opera Mini di HP. Tekor ! |
 | good review Mbak....
sebenarnya esensi menggabung cerita dengan tips perjalanan adalah hal yg menarik. Hanya sayang, di akhir cerita malah anti klimaks...... yg saya ingat waktu Farah mengungkapkan isi hatinya terus menangis (diceritakan dg terburu2 dan muatan emosinya kurang), secara ini adalah pendaman rasa cinta lama..... |
 | kenapa mimpi, tinggal tunggu kesempatan aja... |
 | Wuah! berhasil pula diriku kau racuni Dew! :-D Akhirnya semalam jadi juga beli buku ini... |
 | makasih untuk reviewnya ya :) |
|
"...to bravely go where no one has gone before..."
|